oleh

Memasak Keperihan

Artikel, Explorenews.net

Teman! Karena kita sama-sama awam dalam jalur percintaan, mari masing-masing kita coba langkahkan kaki dengan belajar membuat sebuah adonan. Dari telur-telur penderitaan, gula lara, susu getir, dan koyak moyak daun pandan yang remuk dalam perasan sisa-sisa air mata. Tentu saja, sekarung tepung dukacita yang sudah berpayah-payah dipikul. Campur dan larutkan hingga pilunya terasa mengental. Sambil tetap hati-hati agar tidak tumpah di terik siang. Dan menurut sebuah kitab masakan, hindari penambahan bahan-bahan tidak natural. Sebab cuma menyeret rasa lukanya terhanyut kepalsuan.

Teman! Masing-masing, kita tuang adonan kepedihan ini ke sebuah loyang hitam. Di atas api Cinta. Jikalau diri merasa tak punya api itu, kata kitab tadi, usah dipeluk tungkunya. Sebuah rangkulan hanya membuat malam semakin kedinginan. Dekapan justru mengantar temaram dilanda kebekuan. Pintalah seikat kayu bakar kepada para musafir. Dan nyalakan dengan korek di laci hati terdalam. Yang selalu tersimpan rapi. Selalu menunggu untuk menghargai.

Teman! Setialah menjaga api masing-masing sampai ia matang. Walau perlahan akan terhirup aroma nafas kenangan. Yang bercerita tentang siang-siang yang terserak buram, malam-malam yang terkubur karam. Tutur kata yang dihentikan hilang, rencana dan langkah yang digagalkan musnah. Palung-palung mimpi yang terbakar gelap, relung-relung harap yang terbungkam senyap. Tatapan ratap yang tenggelam dalam benaman, pikiran-pikiran yang melayang ke belakang bulan. Iri dan dengki yang berkalutkan lusuh, benci dan dendam yang bersulutkan luruh. Nama-nama yang terselip erat di bawah ingatan, rahasia-rahasia yang terendap padat di dasar bayang-bayang.

Teman! Lepaskanlah semua kenangan itu menari di atas tungku. Dengarkan seberapa lama lengkingnya sanggup menyanyikan masa lalu. Seluruh lagu tentang sepenggal perjalanan. Yang belum mengecap arti hakiki. Belum mengecup lembut kehidupan. Belum memesrai ajal.

Teman! Masih dapatkah engkau meniup apimu? Tetaplah bertahan dihimpit kebisuan lelah. Diriku atau dirimu tidak bisa mengukir kini dengan sayup keraguan redup, melukis sore dengan gigil rintihan degup. Atau sanggupkah manusia menata letak bintang malam nanti? Tolong jangan patahkan kunci-kunci makna persinggahan. Berupaya menghapus takdir-takdir yang sudah dipahat, semakin menghanguskan jiwa yang melepuh. Apa hebatnya meneguk kehancuran setelah kematian?

Teman! Kayu bakar tinggal sepotong, adonan belum jua matang. Namun, percayalah! Ada yang mendengar tiap jerit kelumpuhan, tiap pekik repihan patah. Ada yang melihat ketidakberdayaan ditikam, kerapuhan dihantam. Ada yang mengetahui di mana serpih-serpihnya jatuh tertinggal. Ada yang mengenali dingin di terik padang pasir, sepi di kerumunan kota, hampa di keramaian manusia. Ada yang menyayangi permohonan siang. Ada yang mengasihi ratapan malam. Ada yang menjamin ketidaksempurnaan kehidupan. Dia-lah Cinta yang mencintai kerinduan dalamnya pengakuan. Manusia memandang besar dunia di saat matanya kelilipan bumi.

Teman! Separuh bara sudah diselimuti abu. Mari rebahkan segenap tubuh dan jiwa kepada Cinta. Tutup telinga dan pejamkan mata untuk sebelaian waktu. Cermati, dan lihatlah hadirnya suatu jeda. Ketika malaikat tiba membawa kiriman bergelondong-gelondong pinus dan gaharu. Lalu beberapa batang ia taruh di dalam tungku, seraya berkata: “Wahai keperihan! Wahai engkau yang lebih tahu siapa nama aslimu! Engkau sendiri yang berhak memilih. Apa engkau ingin segera matang dan mewangi, atau dirimu memang sudah berniat gosong dalam kobaran api Cinta ini?.”

Sementara pada sayap malaikat, untuk diriku dan dirimu, masing-masing terbaca sebuah kaligrafi skenario cadangan. Huruf-hurufnya bersulamkan penggalan adegan Ibrahim menyembelih Ismail dan peristiwa turunnya hidangan dari langit pada masa Isa bin Maryam.

Penulis: Abdullah Umar

Berita Terkait